Januari 16, 2011

[Sinopsis] God of Study Episode 10

Baek Hyun mencoba mencium Pul Ip, dan Hyun Jung melihat mereka dari kejauhan. Namun tiba-tiba Pul Ip berseru, “Ah! Kang Seok Ho! Dia bilang, besok ia akan mulai menyiapkan ujian simulasi yang sulit. Katanya sangat sulit.” Pul Ip bangkit dari duduknya. “Aku pergi dulu.”
Pul Ip berlari pergi, memegangi dadanya yang berdebar.
Baek Hyun berjalan pulang sambil tersenyum-senyum sendiri.
Di pihak lain, Hyun Jung menangis.
Nenek Baek Hyun mengajak cucunya makan malam bersama di sebuah restaurant.
“Jangan khawatir.” kata Nenek. “Dia bilang, aku tidak boleh mengatakan apapun.”
“Ada apa?” tanya Baek Hyun bingung.
“Kang Seok Ho meneleponku. Dia bilang, kau melakukan kesalahan. Karena itulah kau tidak mendapatkan hasil yang baik saat ujian. Dia bilang, kau pasti merasa sangat kesal.”
Baek Hyun kesal.
“Baek Hyun, nenek lihat, kau belajar dengan keras. Dalam hati, nenek sangat bangga padamu.” kata Nenek. “Sejak hari pertama kau lahir, nenek tidak pernah bermimpi melihatmu belajar sekeras ini. Jika karena kesalahan ini, lalu kau mengingkari janjimu dan menyerah, itu bukan hal yang benar. Kau harus tetap kuat. Telan saja kesalahanmu, lalu setelah itu berdiri kembali dan berjuang lebih keras.”
“Ya, Nenek.” ujar Baek Hyun.
Pul Ip masih terbayang-bayang saat Baek Hyun hendak menciumnya. Ibunya masuk ke kamarnya dan bisa melihat kalau Pul Ip sedang jatuh cinta.
Di tempat lain, Hyun Jung menatap lukisan wajah Baek Hyun dengan seksama.
Ia melepas bando pemberian Baek Hyun. “Tapi kenyataannya, ini bukan untukku.” gumam Hyun Jung, meneteskan air mata.
Keesokkan harinya, Baek Hyun masuk ke sekolah.
Seok Ho menunjukkan target nilai yang harus mereka capai dengan menulisnya besar-besar dekat jendela. Bahasa Korea 85, Matematika 85, pelajaran yang lain 35, total nilai 385.
“Sangat menakutkan.” gumam Bong Goo.
“Kita masih punya waktu, tolong simpan target nilai itu dipikiran kalian.” kata Seok Ho.
“Apa dengan mengingat target nilai itu, kami bisa masuk ke Universitas Chun Ha?” tanya Baek Hyun.
“Tentu saja.” jawab Seok Ho. “Dari pandanganmu, kalian pasti berpikir bahwa target nilai itu mustahil diraih. Prioritas kita sekarang adalah meraih nilai-nilai itu.”
Baek Hyun memasang tampang kesal.
“Hwang Baek Hyun, jika kau pikir target nilai tersebut belum cukup, aku mengizinkanmu meningkatkan targetmu dengan nilai yang lebih tinggi yang bisa memenuhi standar nilai Universitas Chun Ha.” kata Seok Ho menantang.
“Tidak perlu.” jawab Baek Hyun dingin.
Guru Bahasa Korea Byung Moon sepertinya menyukai Jang Young Shik. Ia mengintip ketika Guru Jang sedang bicara dengan bunga. Guru Lee ikut melihat apa yang diintipnya.
Guru Lee kemudian mendekati Guru Jang dan berbincang dengannya.
Murid-murid kelas khusus belajar Ilmu Pengetahuan dengan Guru Jang.
Kali ini, ia mengajarkan mengenai kurva. Ia berkata bahwa soal kurva seperti itu keluar pada soal nomor dua tahun 2008, dan pada soal nomor satu tahun 2009 dan 2010.
“Jika kau melihat soal kurva, maka gambar x axis dan y axisnya.” kata Guru Jang. Ia menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut.
Tiba-tiba Guru Jang berhenti bicara ketika melihat Hyun Jung sedang melamun dan tidak mendengarkannya sama sekali.
Pul Ip menoleh.
Saat istirahat, Pul Ip mendekati Hyun Jung.
“Ada masalah?” tanyanya. “Sepertinya kau kelihatan tidak sehat.”
Hyun Jung menoleh pada Pul Ip, hendak bicara sesuatu. Namun mengingat kaki Pul Ip pernah terluka karena Hyun Jung, Hyun Jung mengurungkan niatnya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah.” Kemudian berjalan meninggalkan Pul Ip.
Di kantin, Chan Doo, Pul Ip, Bong Goo dan Baek Hyun makan bersama. Baek Hyun dan Pul Ip berpandangan penuh arti.
“Dimana istrimu?” tanya Chan Doo pada Baek Hyun.
“Bukankah kalian bersamanya?” Baek Hyun bertanya balik.
“Kami pikir ia bersamamu!” seru Bong Goo.
Hyun Jung sedang duduk sendirian di pinggir lapangan. Soo Jung dan Guru Lee melihatnya.
“Na Hyun Jung, kenapa kau sendirian disana? Dimana Baek Hyun?” tanya Soo Jung.
Hyun Jung tidak menjawab dan buru-buru kabur.
“Dia anak yang malang.” kata Guru Lee. “Sepertinya ada beban berat dan kesedihan yang dipendam olehnya.”
Kini giliran pelajaran Guru Cha. Ia menunjukkan soal yang kelihatan sangat sulit pada murid-murid, kemudian menyuruh mereka menyelesaikan soal tersebut dengan baik. Mereka harus memikirkan metode yang tepat untuk mengerjakannya.
Setelah Guru Cha, giliran Anthony yang mengajar. Ia membagikan sesuatu pada anak-anak sebgai hadiah. “Gunakan itu untuk belajar bahasa Inggris.” katanya.
“Terima kasih.” kata Bong Goo.
Baek Hyun menyimpan hadiah itu tanpa melihatnya terlebih dulu. Secara tidak sengaja, ia melihat Hyun Jung, yang duduk disampingnya, murung.
“Na Hyun Jung.” panggil Anthony, menyadari kemurungan Hyun Jung. Ia membuka jasnya untuk memperlihatkan kemeja Anthony yang berbunga-bunga. Saat hari guru, Hyun Jung-lah yang memberikan bunga pada Anthony. “Kemarin, bunga ini sangat kuhargai. Aku luar biasa senang!”
Hyun Jung tidak berkata apapun. Anthony terkejut dengan sikapnya.
Orang tua Chan Doo datang ke sekolah untuk menemui Seok Ho. Mereka meminta izin untuk memasukkan Chan Doo ke kursus Bahasa Inggris selama liburan. Seok Ho menolak. Baginya, tempat belajar yang terkenal tidak menjamin hasil yang didapat maksimal. Ia meyakinkan orang tua Chan Doo bahwa Chan Doo bisa mendapatkan hasil yang baik jika tetap mengikuti kelas khusus.
Saat hari sudah gelap, murid-murid kelas khusus belajar Bahasa Korea dengan Guru Lee.
“Untuk menyelesaikan soal dalam bahasa, maka kalian harus menjadi orang yang memiliki beberapa kepribadian. Seperti narator dalam novel, penyair dalam syair, dan menjadi orang yang bisa menyelesaikan soal yang dihadapi.” kata Guru Lee.
Guru Lee berjalan mendekati Baek Hyun dan Hyun Jung. “Kalian harus bisa berdiri di posisi orang lain.” kata Guru Lee. Ia menoleh pada Baek Hyun. “Apakah kau pernah mencoba berdiri di posisinya?” tanya Guru Lee pada Baek Hyun, dan menunjuk Hyun Jung.
“Apa?” Baek Hyun bingung.
Kang Seok Ho berkunjung ke restoran milik orang tua Bong Goo. Ayah Bong Goo meminta istrinya menyiapkan daging untuk Seok Ho.
“Kami minta maaf soal kejadian yang allu.” kata Ayah Bong Goo.
“Ketika melihat anak kami dihukum, kami menjadi marah.” tambah ibu Bong Goo.
“Aku bisa mengerti.” ujar Seok Ho memaklumi. “Yang ingin kubicarakan adalah…”
“Oh iya! Beberapa hari yang lalu, aku mengalami situasi aneh.” potong Ayah Bong Goo.
“Beberapa hari yang lalu, kami pergi ke suatu tempat….” Ibu Bong Goo menyambung cerita.
Seok Ho hanya bisa diam.
Di kelas khusus, Bong Goo dan Chan Doo mengucapkan selamat ulang tahun untuk Pul Ip. Baek Hyun hanya duduk di kursi, tidak berkata apapun dan tersenyum-senyum sendiri.
Chan Doo memberikan minuman sebagai hadiah untuk Pul Ip. Sedangkan Bong Goo memberikan daging.
Hyun Jung masuk ke ruang kelas itu.
“Baek Hyun, apa kau tidak tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Pul Ip?” tanya Chan Doo.
“Aku sudah memberikan hadiahku.” kata Baek Hyun.
Pul Ip berpikir, dan teringat malam ketika Baek Hyun hendak menciumnya.
“Apa hadiahnya?” tanya Chan Doo dan Bong Goo.
“Rahasia.” kata Baek Hyun.
Hyun Jung diam saja. Pul Ip mendekatinya dan menawarkan minuman yang diberikan Chan Doo padanya. Hyun Jung menolak, namun Pul Ip memaksa. Hyun Jung mendorong gelas hingga gelas tersebut terjatuh ke lantai.
“Maafkan aku.” ujar Hyun Jung seraya beranjak ke luar ruang kelas.
Malamnya, Hyun Jung berjalan menuruni tangga. Baek Hyun sudah menunggunya.
“Na Hyun Jung, ayo bicara.” kata Baek Hyun, mengajak Hyun Jung. “Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini? Apa kau marah padaku? Apakah aku berbuat salah?”
“Apa yang kau lakukan bukan urusanku.” jawab Hyun Jung. “Dulu kita dekat sebelum ini terjadi.”
“Bukankah saat ini kau dan aku dekat?” tanya Baek Hyun. “Chan Doo, Bong Goo dan Pul Ip, bukankah kalian semua dekat? Mereka semua hanya teman.”
“Teman?” gumam Hyun Jung. “Seseorang juga pernah bicara begitu. Kata-kata yang ingin kudengar dan kupikirkan sama. Kau tidak menyukai aku seperti aku menyukaimu.”
“Bukan aku tidak menyukaimu.” kata Baek Hyun. “Tapi semua itu hanya akan menjadi beban.”
“Pul Ip menyukaimu. Kau tidak berpikir bahwa itu beban, kan?” tanya Hyun Jung.
Saat itu, Chan Doo kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan mereka.
Hyun Jung tersenyum. “Aku sangat aneh. Aku selalu menjadi beban bagi orang lain, terutama orang yang paling dekat denganku dan orang yang paling berharga untukku.” Hyun Jung bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. “Maafkan aku karena menyukaimu.”
Hyun Jung meminta izin pada Soo Jung untuk pulang menemui sepupunya. Soo Jung tahu bahwa Hyun Jung berbohong, namun ia berpura-pura tidak tahu, dan mengizinkan Hyun Jung pulang.
Seok Ho melihat dari jendela lantai atas.
Murid-murid belajar sendiri di ruang kelas, mempersiapkan ujian simulasi.
Ponsel Baek Hyun bergetar dan satu pesan masuk dari manajer restaurant. “Baek Hyun, aku tidak bisa menemukan orang untuk membantu mengirimkan pesanan. Bantu aku. Aku akan membayarmu lebih.”
Baek Hyun pergi.
Murid kelas khusus tinggal 3 orang.
Hyun Jung memotong rambutnya hingga pendek.
Beberapa gadis mengikutinya. Mereka adalah gadis-gadis yang dulu hendak memukul Hyun Jung.
“Siapa ini?” tanya mereka. “Apa ini orang yang mengaku bukan Na Hyun Jung?”
“Aku?” tanya Hyun Jung. “Aku Na Hyun Jung.”
“Kalau begitu, kau punya hutang.”
“Baik.” ujar Hyun Jung.
Mereka pergi ke sebuah diskotik.
Gadis-gadis gangster melihat Hyun Jung dance di depan para pengunjung.
“Saat kalian sedang mengalami masalah, hanya dia yang berhasil lolos dari masalah?” tanya seorang laki-laki pada para gadis gangster, menunjuk ke arah Hyun Jung.
“Itu karena ayahnya punya banyak uang.” kata seorang dari mereka. “Ayahnya mengeluarkan banyak uang untuk membantunya keluar dari masalah.”
“Kamilah yang akhirnya disalahkan.” kata gadis yang lain.
“Benarkah?” tanya si laki-laki seraya membuka tas milik Hyun Jung.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku akan membantu kalian balas dendam.” kata si laki-laki.
“Ayo kita tipu dia dan dapatkan banyak uang.” ujar salah seorang gadis gangster.
Di sekolah, Pul Ip memikirkan Hyun Jung.
Laki-laki teman gadis gangster menelepon ayah Hyun Jung, namun ponsel ayahnya tidak aktif. Kemudian, ia mencoba menelepon ponsel ibu Hyun Jung.
Seseorang di diskotik melihat Hyun Jung dengan heran. Sepertinya ia mengenal Hyun Jung.
Di sekolah, ponsel Soo Jung bergetar. Ia mengangkatnya.
“Apakah kau ibu Hyun Jung?” tanya suara dari seberang.
Soo Jung bingung dan berpikir. “Ya.” katanya. “Aku adalah ibu Hyun Jung.”
Di diskotik, si laki-laki meminta temannya untuk memanggil anggota geng datang.
“Kakak! Tidakkah itu terlalu berlebihan?” tanya salah satu gadis gangster.
“Kalian lihat saja pertunjukkannya.”
Di sisi lain, Baek Hyun diminta mengantarkan pesanan yang letaknya sangat jauh. Baek Hyun protes.
“Dia ingin memesan makanan dari restaurantmu, kami bisa apa?” ujar salah seorang pria, menunjuk pria yang lain.
Baek Hyun menoleh. Seok Ho duduk di sana.
“Harganya 83.000.” kata Baek Hyun.
“Aku akan membayarmu nanti. Duduklah di sana dulu.” kata pria yang lain. “Tunggu sampai kami selesai makan dan kau bisa membawa semua piring kotor.”
Baek Hyun protes.
“Atasanmu sudah setuju. Kau akan menunggu kami selesai makan dan kami akan membayar upah menunggu.” kata Seok Ho.
Baek Hyun tidak punya pilihan lain selain menuruti mereka.
Para pria tersebut adalah teman-teman lama Kang Seok Ho saat masih sekolah.
Seseorang mengirim pesan ke ponsel Baek Hyun. Baek Hyun bangkit dari duduknya dan bergegas pergi. Pesan tersebut mengatakan bahwa Na Hyun Jung bersikap aneh. Ia memakai make up tebal dan pakaian yang seksi.
Soo Jung panik dan cemas bukan main. Ia meminjam mobil dan pakaian milik Jang Ma Ri.
Ma Ri terpaksa mengantarkan Soo Jung dengan mobilnya.
Ma Ri dan Soo Jung pergi ke sebuah tempat sepi. Di sana, dua orang pria sudah menunggu mereka.
“Bukankah sudah kubilang untuk datang sendiri?” tanya laki-laki yang tadi menelepon Soo Jung.
“Aku tidak mengemudi.” kata Soo Jung, berakting layaknya wanita kaya. “Dia supirku.”
“Kau sangat muda untuk menjadi ibu Hyun Jung.” kata si laki-laki.
“Perawatan kulit mahal.” kata Soo Jung.
“Serahkan ponsel kalian!”
Ma Ri ketakutan dan buru-buru menyerahkan ponselnya.
“Ayo!” ujar si pria, mengajak Soo Jung dan Ma Ri ke seuatu tempat.
Baek Hyun tiba di diskotik.
“Kalian tahu Na Hyun Jung, bukan?” tanya Baek Hyun pada gadis gangster. “Dimana dia?”
Hyun Jung melihat kedatangan Baek Hyun dan buru-buru pergi.
Baek Hyun berteriak-teriak memanggil Hyun Jung. “Na Hyun Jung! Na Hyun Jung! Dimana kau?”
Seorang pria mendekati Baek Hyun dan memukulnya.
Hyun Jung maju hendak menolong, namun gadis gangster menahannya.
“Jangan berani ikut campur atau kau akan mati!” ancam gadis gangster.
‘Ibumu sudah datang. Ayo!” Mereka menarik Hyun Jung.
Baek Hyun berkelahi dan dikeroyok oleh beberapa pria diskotik. Baek Hyun dipukuli habis-habisan.
“Mana uangnya?” tanya si laki-laki.
“Bawa Hyun Jung kesini terlebih dulu!” seru Soo Jung.
Para gadis gangster membawa Hyun Jung.
“Guru!” seru Hyun Jung ketika melihat Soo Jung.
“Guru?” tanya laki-laki kebingungan. Ia mengambil tas yang dipegang Soo Jung dan membukanya. Isinya adalah sebuah boneka.
Ma Ri berteriak ketakutan dan melarikan diri. Soo Jung menarik Hyun Jung berlari kabur.
Mereka masuk ke mobil, namun mesin mobil tidak mau menyala.
Beberapa pria gangster datang sambil membawa tongkat pemukul. Mereka mencabut kabel mobil sehingga mobil tidak bisa distarter.
Hyun Jung dan yang lainnya katakutan.
Ketika para pria gangster hendak memukul kaca mobil, tiba-tiba sebuah mobil muncul.
Seok Ho dan teman-temannya keluar dari dalam mobil, kemudian berkelahi dengan para pria gangster.
Beberapa saat kemudian, para polisi datang.
Hyun Jung dan yang lainnya dibawa ke rumah sakit.
Ternyata, Ma Ri-lah yang telah menelepon Seok Ho untuk meminta pertolongan.
Hyun Jung sedih melihat Baek Hyun terbaring di rumah sakit dengan tubuh babak belur.
“Kau membuatku sangat khawatir.” kata Baek Hyun.
“Maafkan aku.” ujar Hyun Jung, menangis.
Soo Jung dan Seok Ho datang. Soo Jung mengajak Hyun Jung beristirahat. Hyun Jung demam.
“Kenapa kau datang?” tanya Hyun Jung. “Kudengar, mereka menelepon ibuku.”
“Ibumu menghubungiku.” kata Soo Jung berbohong. “Ia memintaku menjagamu. Seprtinya ia harus pergi keluar negeri.”
“Ya.” Hyun Jung membalikkan tubuhnya, membelakangi Soo Jung.
Flashback Soo Jung menghubungi ibu Hyun Jung. Ibu Hyun Jung mengatakan bahwa sejak 6 tahun yang lalu, Hyun Jung sudah hidup seorang diri. Jadi hal kecil seperti itu tidak menjadi masalah untuk Hyun Jung. “Jika suatu saat nanti ada masalah seperti ini, jangan pernah menghubungi aku lagi.” kata Ibu Hyun Jung.
Soo Jung kesal pada ibu Hyun Jung, kemudian mengganti nomor hp ibu Hyun Jung dengan nomor hpnya. “Jangan khawatir Hyun Jung, mulai saai ini aku akan menjadi ibumu.” kata Soo Jung.
Hyun Jung membelakangi Soo Jung dan menangis.
“Guru, aku tahu, jika ibuku melihat nomor ponselku, ia pasti menolak teleponku.” pikir Hyun Jung dalam hati. “Terima kasih.”
Hari ujian simulasi.
Ma Ri mengingatkan Seok Ho tentang perjanjian mereka, jika ujian simulasi kali ini hasilnya tidak memenuhi standar, maka kelas khusus akan dibubarkan.
“Kelas khusus akan dibubarkan?” tanya Soo Jung. Saat itu, Baek Hyun mendengar pembicaraan mereka. “Jadi, jika hasil tidak memenuhi standar, kelas khusus akan dibubarkan? Hari ini, mendapatkan hasil seperti itu hampir mustahil. Hyun Jung tidak bisa mengikuti ujian dengan kondisi kesehatannya yan buruk. Katakan padaku apa yang harus kulakukan?”
“Dia belum keluar dari rumah sakit?” tanya MaRi.
“Belum.” jawab Soo Jung.
“Aku akan berkeliling.” kata Ma Ri. “Kalian pikirkanlah sebuah rencana.”
Seok Ho hanya bisa pasrah, tidak merencanakan apapun.
Baek Hyun masuk. Ia marah-marah pada Seok Ho, mengatakan bahwa Seok Ho telah membohongi murid kelas khusus. Ia marah karena Seok Ho merasa bahwa mencapai target nilai adalah hal yang mustahil dan menyerah begitu saja.
Baek Hyun berjalan pergi dengan terpincang-pincang.
Baek Hyun menuju rumah sakit, melihat Hyun Jung tertidur di sana.
“Hyun Jung.” panggil Baek Hyun, membangunkan Hyun Jung.
“Su…” Hyun Jung hampir memanggil ‘suami’, tapi tidak jadi. “Baek Hyun.”
“Kita harus kembali ke kelas.” ajak Baek Hyun. “Hari ini adalah ujian simulasi. Kita harus ikut ujian.”
“Tapi aku sedang tidak enak badan. Kepalaku pusing.” kata Hyun Jung lemah.
“Tapi, kita harus tetap ikut ujian. Ayo.”
Hyun Jung bangun. Baek Hyun memapahnya berjalan.
Ketika Hyun Jung hampir jatuh, Baek Hyun menawarkan untuk menggendongnya.
“Apa merasa tidak nyaman?” tanya Baek Hyun.
“Tidak.”
“Hyun Jung, maafkan aku.” kata Baek Hyun.
“Tidak apa-apa.”
Tiga murid kelas khusus bersiap melakukan ujian.
Soo Jung meminta agar ujian ditunda sebentar, namun Seok Ho ingin tetap melaksanakan ujian.
“Siapakan peralatan tulis kalian.” kata Seok Ho.
“Tapi, jika ada dua siswa yang tidak datang…”
“Aku tahu.” potong Seok Ho. “Berharap saja agar kita melakukan yang terbaik dalam ujian.”
Kepala sekolah menyerahkan soal dan membuka pintu kelas.
Baek Hyun dan Hyun Jung ada di balik pintu.
“Kami akan ikut ujian.” kata Baek Hyun.
http://princess-chocolates.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"...감사합니다 gamsahabnida..."


"Kalo Tulisannya tidak terbaca/kelihatan, di sorot aja ya!!!"

Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon



Gratisan Musik